Harmonisasi Peran: A Solid Dream Team, A Big Goal

Featured

Duhai generasi tua,
Jangan semaunya sendiri menguasai semua lini dan mengontrol semua hal semau Anda.
Ingatlah peran Anda, bahwa tugas utama Anda tidaklah seberat ekspektasi Anda.
Tugas Anda tidak seberat harus selalu bersikap wibawa, tegas, dan diktator setiap waktu.
Tugas Anda tidaklah seberat ADOLF HITLER, yang harus mendikte sana sini.
Tugas Anda sangatlah sederhana, cukuplah menjadi sosok pengayom.
Sosok yang tidak perlu diwibawakan berlebihan untuk menjadi wibawa.
Sosok yang tidak perlu menjaga wibawa untuk terkesan wibawa.
Cukuplah menjadi pengayom, mengayomlah dengan penuh rasa kasih dan sayang.
Ayomilah junior-junior Anda, adik-adik Anda, anak-anak Anda, cucu-cucu Anda, dengan penuh rasa tulus ikhlas dan kasih sayang.
Ayomilah dengan penuh rasa kebahagiaan dan kebersamaan, dengan tulus ikhlas dan penuh persatuan.
Mereka yang engkau ayomi tidak akan merasa berat hati untuk datang kepada Anda dan berbalik menyayangi Anda.
Mereka yang Anda ayomi tidak akan merasa hanya sebagai tempat pelampiasan batin semata.
Mereka yang Anda ayomi justru akan datang kepada Anda, dengan penuh perasaan gembira, dengan perasaan tulus kasih dan ikhlas akan membawakan Anda hadiah dan makan-makanan favorit kesukaan Anda setiap waktu.
Mereka yang Anda ayomi akan terus mencari Anda setiap waktu di saat Anda jauh darinya.
Tidak ada sosok superior-inferior, semua berjalan secara egaliter dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tidak perlu menjaga jarak apalagi menjaga kata, toh jarak yang Anda ciptakan akan menyiksa Anda sendiri karena orang-orang akan menjaga jarak dari Anda karena segan dengan Anda.
Tidak perlu memaksakan ini dan itu, diskusikan secara egaliter, demokratis, dan penuh rasa kebersamaan, bukan malah perintah satu arah yang justru akan membuat setiap orang menjauhi Anda.
Tidak akan hilang wibawa Anda jika Anda mendiskusikan opini Anda.
Tidak akan hilang opini Anda tertelan opini junior Anda  yang lebih kuat, justru setiap hati akan lebih tulus ikhlas saling berpadu karena akan menjadi saling mengerti dan saling memahami satu sama lain.
Investasikan setiap opini dan visi Anda dengan cara yang lebih halus dan tulus ikhlas, bukan dengan cara yang memaksa, mendongkol, dan menyiksa batin Anda sendiri.
Investasikan perhatian Anda kepada mereka, yakinlah bahwa tidak akan pernah hilang rizki Anda karenanya.
Investasikan seluruh skill Anda kepada penerus Anda, perlakukanlah mereka layaknya generasi penerus kemajuan bangsa, bukan justru malah Anda kekang dan Anda hambat pergerakan mereka karena Anda takut kalah bersaing olehnya.
Investasikan seluruh pikiran Anda untuk menciptakan sebuah algoritma hidup yang jelas untuk penerus Anda.
Investasikan seluruh tenaga dan kekuasaan Anda seolah-olah penerus-penerus Anda akan segera menggantikan Anda dalam kurun waktu yang tidak lama lagi.
Investasikan batin dan perasaan Anda dengan tulus ikhlas dan penuh kebahagiaan, niscaya akan Anda raih apa yang ANda mau, kebahagiaan di masa tua Anda.

Duhai generasi muda,
Kau juga begitu, janganlah seenakmu sendiri kalau bergerak.
Kau adalah generasi dinamis, yang memiliki kemampuan mobilitas yang lebih kuat dan lebih enerjik.
Kau adalah generasi yang penuh rasa optimisme yang tinggi.
Kau adalah generasi yang penuh rasa penasaran, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
Kau adalah generasi yang memiliki peluang yang masih sangat besar untuk melakukan hal-hal eksperimental yang generasi tua tidak mungkin mampu melakukannya.
mencoba, mencoba, gagal, bangkit, gagal, bangkit, dan akhirnya berhasil adalah salah satu tugasmu.
Kau adalah generasi yang akan meneruskan generasi tua.
Meski kau muda, kau tetaplah harus menghormati tetuamu.
Kau harus menghormati tetuamu sebagaimana tetuamu mengayomimu.
Peran utamamu sebagai generasi muda adalah menghormati generasi tua, sebaliknya generasi tua harus mengayomi generasi muda.
Jika generasi tua tidak mampu menjadi pengayom, tekanlah! paksalah!
Tugasmu adalah sebagai penyeimbang di sini, jangan takut apalagi risau, majulah!
Dari situ, akan terbentuk suatu kutub magnetis yang saling tarik menarik satu sama lain.
Kodrat manusia sebagai insan khalifah di muka bumi akan tercipta melalui harmonisasi tersebut.
Bahwa sebenarnya setiap manusia memiliki peran dan fungsi masing-masing.
bahwa sebenarnya hakikat dari khalifatul fil ardi bukanlah melulu tentang kepemimpinan, kewibawaan, dan kekuasaan.
Justru sebaliknya, adalah sebuah keridhoan tentang diri ini yang sedang menyatu dengan peran dan fungsi masing-masing.
Merenunglah wahai anak muda..

Hai semua insan,
Hai semua pemimpin-pemimpin bangsa,
hai semua calon-calon pemimpin bangsa,
ingatlah peran dan fungsimu masing-masing.
Janganlah semua golongan ingin menang sendiri-sendiri,
Jangan semua golongan lupa daratannya masing-masing tanpa mengindahkan golongan lain, alih-alih merendahkan golongan lain.
ingatlah peran dan fungsi masing-masing, semua saling membutuhkan.
Ingat, semua saling membutuhkan.
Focus on your own scope, niscaya Indonesia akan melaju pesat ke depannya.

Atas nama masa lalu, demi masa depan, bangsa dan negara,
Demi terciptanya sebuah tim impian yang solid, unggul, dan visioner,
Demi pencapaian-pencapaian besar kita bersama..

Wallahu A’lam Bish-Shawab

Bangi (Malaysia), 22 Mei 2015

12 Falsafah Kehidupan Agung Adat Jawa

Tags

, ,

Ilustrasi: Unggah Ungguh Jawa

Sabtu pagi yang cerah, dan saya terbangun dengan 12 FALSAFAH KEHIDUPAN agung ‘wong Jowo’. Dishare oleh kerabat, dan saya tergugah untuk menyebarkannya lagi supaya kita dapat memaknai filsafat adiluhung para Leluhur Jawa dan menjadikan bagian dari cara kita berkehidupan sehari-hari:

1. URIP IKU URUP
(Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar.)

2. MEMAYU HAYUNING BAWONO, AMBRASTO DUR HANGKORO.
(Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.)

3. SURO DIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.)

4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE, SEKTI TANPO AJI-AJI, SUGIH TANPO BONDHO
(Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan/ mempermalukan, Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/ kekuatan/ kekayaan/ keturunan, Kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi.)

5. DATAN SERIK LAMUN KE TAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN.
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan sedih manakala kehilangan sesuatu)

6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN.
(Jangan mudah terheran heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut dengan sesuatu, jangan kolokan dan manja.)

7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN.
(Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi.)

8. OJO KEMINTER MUNDAK KEBLINGER, OJO CIDRO MUNDAK CILOKO.
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.)

9. OJO MILIK BARANG KANGMELOK, OJO MANGKRO MUNDAK KENDHO.
(Jangan tergiur oleh hal hal yang tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir gamang/ plin plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat.)

10. OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO
(Jangan sok kuasa, sok besar/ kaya, sok sakti)

11. ALANG ALANG DUDU ALING ALING MARGINING KAUTAMAAN.
(Persoalan persoalan dalam kehidupan bukan penghambat jalannya kesempurnaan.)

12. SOPO WERUH ING PANUJU SASAT SUGIH PAGER WESI.
(Dalam kehidupan, siapa yg punya cita cita luhur, jalannya seakan tertuntun.)

Copied from status facebooknya Prof. Joni Hermana ITS.