Tags

, , , ,

Ular Tangga Batto Lampy, Bagaimana Kabarmu Kini?
01 Januari 2011 07:27:24

Kampus ITS, ITS Online
– Awalnya, mereka adalah suatu komunitas kecil peduli lingkungan hidup yang terdiri dari 5 orang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, yakni 4 mahasiswa angkatan 2008, Anindito Kusumojati, Muhammad Rizal Habibi,
Dhuha Abdul Aziz Rahmatullah, Nastiti Puspitosari, dan 1 mahasiswa angkatan 2007, Rifgy Said Bamatraf.

Kisah mereka berawal di pertengahan tahun 2009 lalu. Anindito mengamati kondisi lingkungan sekitar rumahnya yang terkesan boros listrik. Ia menyadari bahwa listrik merupakan sumber energi yang hampir dapat dikatakan merupakan kebutuhan primer manusia, karena hampir semua aspek kehidupan manusia
ditunjang dengan adanya listrik.

Di sisi lain, listrik berasal dari suatu pembangkit yang didistribusikan ke para konsumen. Mirisnya, 84% pembangkit Indonesia berasal dari energi fosil, seperti batubara, gas bumi, dan minyak bumi, sisanya adalah dari energi non-fosil. Jika digunakan secara masif, dampak jangka panjangnya adalah tidak ada lagi listrik di masa depan, selain itu juga dapat mengakibatkan efek kontemporer seperti global warming. Mereka terinspirasi dengan gerakan sosialisai ‘17-22’ milik PLN yang mengarah ke arah sana.

Untuk itu, mereka berupaya mencari metode yang tepat untuk menyampaikan ide mereka pada masyarakat. Ular tangga, mereka anggap sebagai media yang tepat dan informatif untuk disosialisasikan pada anak usia sekolah dasar. Di samping cara bermainnya yang mudah, ular tangga juga sudah cukup dikenal oleh anak kecil zaman sekarang. “Sosialisasi adanya budaya penghematan listrik harus dilaksanakan sejak dini. Parameter dini harus kami sesuaikan dengan ilmu yang objek sasaran punya. Ketika saya mengamati buku Sekolah Dasar adik saya, ternyata jenis-jenis energi sudah dikenalkan dalam mata pelajaran IPA kelas 3,” ujar Habibi, mahasiswa berkacamata ini.

Setelah melakukan diskusi, tokoh yang mewakili kelimanya dalam ular tangga tersebut pun dirancang. “Kami memilih tokoh animasi kartun baterai dan lampu dan kami beri nama plesetannya, Batto dan Lampy,” terang Habibi. Desainernya adalah Dhuha. Sedangkan, pencetus nama tokohnya adalah Nastiti. Langkah itu mengawali langkah mereka selanjutnya. Batto Lampy Community Development, begitulah tim PKMM yang didanai DIKTI Rp 6.996.000,- ini ingin disebut.

Keistimewaan ular tangga ini dibandingkan dengan permainan ular tangga biasa dan ular tangga lain yang juga pernah di PKM-kan adalah metode bermainnya yang khas. Disamping dibagi menjadi tiga jenis kotak (kotak pengetahuan, kotak pertanyaan dan kotak Ambil Kartu), juga ada alur berpikir yang menstimulasi hemat energi listrik kepada pemainnya.

Sejauh ini, karya mereka telah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Habibi mengutarakan, “Kami harus berjuang keras menjalin kerjasama dengan 6 sekolah dasar di Surabaya yang kami jadikan sampel yang mewakili semua kalangan, yakni SDN Margorejo 1, SDN Kendangsari 5, SDN Kertajaya, SD Muhammadiyah 4, SDN Bubutan 4, dan SD Alam Insan Mulia.”

Habibi mengaku, respon positif diberikan oleh anak-anak sekolah tersebut. Mereka sangat senang tentunya. Apalagi siswa dari SD Alam Insan Mulia.”

Ada dua pertemuan dalam sosialisasi itu. Sosialisasi metode permainan dan simulasi permainan. Uniknya, semua sesi diberi pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman anak-anak terhadap materi yang diselipkan dalam ular tangga.

Sepuluh besar dari hasil post-test tersebut diundang ke dalam forum bernama Festival Educational Game Ular Tangga Saving Energy for Better Life yang diadakan pada 2 Mei lalu bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dipilih tempat di SD Muhammadiyah 4 Pucang karena lokasinya yang berada diantara semua sekolah dasar yang diundang. Setelah bermain ular tangga raksasa di aula SD Muhammadiyah, diadakan lomba cerdas cermat. Selain didukung oleh PT PLN, acara tersebut diliput berbagai media.

Ada kejadian menarik saat sosialisasi dalam suatu pameran. Banyak yang tertarik memintanya untuk anak mereka, terutama ibu-ibu. Bahkan, Narto, kasubbag lomba di BAAK ITS bagian kemahasiswaan juga turut meminta.
 
Ketika ditanya mengapa PKM ini tidak dimasukkan dalam kategori kewirausahaan, Habibi menjawab, “Dari awal, niat kami adalah sosialisasi, jadi masuk ke dalam kategori PKMM.”

PKMM yang juga dijadikan bisnis ini tidak mengganggu kuliah mereka. Perlu perjuangan panjang dan penuh pengorbanan untuk menjalankan program sosialisasi tersebut. “Kami berlima hanya mencoba berjuang, masalah hasil sudah ada yang Maha Menentukan,” ungkap Habibi bijak.

Harapan yang belum tercapai adalah ikut serta dalam acara Road to PIMNAS. Ke depannya, Habibi berharap agar permainan ini bisa dikenal oleh masyarakat luas. “Semoga tercipta permainan-permainan kami selanjutnya. Ini kan masih Batto Lampy versi 1.5. Masih akan ada versi yang lain,” harap pemuda asal Mojokerto ini.

“Budayakan hemat energi listrik, mulai dari sekarang! Hal besar merupakan dampak dari adanya pergerakan-pergerakan kecil yang ada di dalamnya. Mari kita cegah  global warming mulai dari sekarang!” pungkas Habibi dengan penuh semangat.(m6/yud)