Tags

, ,

Kisah ini berawal dari kebiasaan saya dan kawan-kawan saya untuk saling berdiskusi, bertukar pikiran, dan menceritakan curahan hati masing-masing sambil “cangkruk bareng” di warung kopi sebelah kampus di suatu malam tatkala kami semua sedang dipusingkan dengan dunia kampus yang sangat rumit dan menguras pikiran. Kebetulan, kami semua adalah mahasiswa teknik salah satu kampus di Surabaya, dan sudah menjadi hal yang biasa bagi kami bila kami harus membetahkan diri untuk begadang merenungkan tugas-tugas kuliah kami yang tak kunjung terselesaikan sembari sesekali nongkrong di warung kopi sebelah kampus. Bukan bermaksud ingin hidup tak teratur dengan rutin begadang, tapi karena memang bagi kami, terkadang inspirasi untuk melakukan problem solving selalu muncul di saat kami melakukan hal itu bersama-sama.

*Kisah pun dimulai*
Di suatu malam, saya dan dua rekan saya sedang mengalami kepenatan yang luar biasa. Di saat itulah, kami memutuskan untuk nongkrong di Warung Kopi Keputih yang memang kebetulan selalu buka setiap malam. Seperti biasa, kami memesan beberapa gelas kopi Nescafe Original untuk menemani malam kami yang sunyi pada saat itu. Obrolan pun dimulai sambil sesekali kami melakukan sruputan kopi Nescafe yang telah kami pesan tersebut. Obrolan kami pun beragam, mulai dari masalah kebangsaan dan sosial kemasyarakatan (serius neh), masalah keilmiahan, hingga masalah pelik dunia kampus. Alhasil, obrolan ngalor ngidul kami itu pun tiba-tiba terfokus pada informasi dari salah satu kawan kami yang menyebutkan ada Lomba Karya Tulis Mahasiswa tingkat nasional yang dihelat di salah satu perguruan tinggi ternama di Semarang. Kami bertiga pun mendiskusikan topik yang kiranya cocok untuk kami usung bersama untuk lomba tersebut. Setelah menyampaikan gagasan masing-masing, kami pun akhirnya sepakat untuk mengikuti lomba tersebut dengan membawa topik yang telah disepakati. Obrolan pun diakhiri dengan sruputan terakhir kopi Nescafe Original sambil ternyata tak terasa sudah memasuki waktu subuh.

*1 bulan kemudian*
Tak disangka, ternyata karya kami masuk ke dalam daftar finalis. 15 tim akan bersaing dan mempresentasikan ide masing-masing di hadapan dewan juri, dan salah satunya adalah kami bertiga. Beberapa hari sebelum grand final dimulai, kami masih dipusingkan dengan kesibukan kampus yang luar biasa. Kami pun memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri ke Semarang. Ironisnya, kami masih buta arah. Dengan berbekal peta yang kami download dari google map, kami pun berangkat ke Semarang dengan penuh keberanian dan penuh semangat juang 45. Perjalanan ke Semarang kami estimasikan akan menghabiskan waktu malam kami, dan kami tidak boleh tertidur di tengah perjalanan, karena kami harus sampai di Semarang keesokan harinya. Waktu menunjukkan pukul 21.30. Karena capek, kami akhirnya transit di Bojonegoro dan nongkrong di salah satu warung Soto di pinggir jalan kota Bojonegoro. Karena kami sadar bahwa kami masih separuh perjalanan, kami pun bersantai dahulu dan tak lupa memesan beberapa cangkir Nescafe untuk mengusir rasa capek dan lelah kami. Setelah kami merasa siap untuk melanjutkan perjalanan, kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Keesokan harinya, kami pun harus mempresentasikan ide kami di hadapan para finalis lain dan juga dewan juri. Meski terasa sedikit mengantuk dan capek akibat kurang istirahat, kami pun tetap bersemangat menjalani grand final ini dan mempresentasikan gagasan kami di hadapan dewan juri. Tiba saatnya panitia harus mengumumkan hasil grand final ini, kami pun pasrah karena kami mempersiapkan semua hal apa adanya.

Rezeki memang tak diduga-duga datangnya. Tak disangka, di dalam forum yang mendebarkan dan di tengah-tengah suasana pesimisme kami, ternyata tim kami mendadak dipanggil oleh panitia untuk maju ke atas panggung. Rupanya, kami dinobatkan sebagai peraih Juara 1 di lomba tersebut. Wow! Apalah daya! Dengan raut muka sangat mengantuk, dan di tengah-tengah applause keras dari para audiens, kami bertiga pun harus maju ke depan untuk memperoleh trophy The Champion. Luar biasa!

*epilog*
Yah, ini semua berawal dari kebiasaan nyruput kopi.

Tak disangka, inspirasi yang berasal dari secangkir kopi telah menghantarkan kami menjadi sang Jawara Lomba Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Nasional. Apakah petualangan kami berhenti sampai di sini? Tentu saja tidak. Ini hanyalah salah satu kisah kami. Kami masih punya segudang kisah lain yang hampir serupa di balik nikmatnya nyruput kopi Nescafe, di suatu malam di warung kopi.

NB :
artikel iseng utk Nescafe, Tribute to Nescafe, Tribute to Warung Keputih Surabaya pisan hehe