Tags

, ,

Sore itu, saya, Fahmi, dan Chafid beristirahat di dalam kamar karena capek setelah presentasi LKTI seharian. Saya lihat mereka berdua kelihatan letih (rodhok mabuk perjalanan digoyang dangdut oleh Bis Eka dengan shockbreaker super empuk selama 6 jam dalam kondisi hanya sarapan Sari Roti satu potong, mantap), saya pun mempersilahkan mereka istirahat duluan, sambil kemudian saya izin keluar mencari udara segar. Udara saat itu terasa sangat dingin, hujan gerimis dengan angin amat sangat kencang, dan, firasat saya buruk. Saat itu, panitia mengagendakan sore harinya akan diajak berkeliling Solo sambil mampir ke festival seni yang akan diselenggarakan malam harinya. Saya ingin keluar kamar, turun dan memastikan ke panitia apakah jadi diadakan, karena langit tampak sangat sangat sangat gelap pada saat itu (karena kalau nggak jadi, ada agenda “lain” ini, hehe).

Saya pun turun, melewati anak tangga satu per satu. Hujan tiba-tiba semakin deras, sangat deras. Dengan hujan yang sederas ini, saya pesimis acara jalan-jalan peserta LKTI jadi dilaksanakan malam itu. Saya pun sampai di bawah, kemudian berjalan menembus guyuran hujan plus terpaan angin kencang untuk menuju basecamp panitia. Saya menjumpai para panitia sedang sibuk menyelamatkan beberapa laptop dan dokumen-dokumen yang kena cipratan air hujan (-_-). Dengan sigap, tentu saja saya membantunya.

*beberapa detik kemudian*
tiba-tiba pandangan saya teralihkan dengan angin yang semakin kencang. Saat panitia masih sibuk dengan beberesnya, saya tiba-tiba melihat ada meja terbang! whatt?? meja terbang?? Yaa, meja tersebut terbang diterpa angin!! Saya pun berlari untuk mengecek darimana asal meja tersebut terbang. Saat saya berlari, saya lebih terkejut lagi, masya Allaah!! ada dua orang (ibu-ibu dan nenek-nenek) yang terkena terpaan angin kencang dan hujan sambil memegangi ratusan tumpukan piring kaca!!!! (-_-) mereka berteriak-teriak tetapi tidak terdengar dari seberang karena terpaan hujan meredam suara mereka. Posisinya sangat ora mbegjani, berada di aula yg letaknya diapit oleh dua gedung tinggi, dan di balik gedung itu langsung loss lahan kosong + sungai bengawan solo. Mereka berdua terkena serangan badai La Nina angin buangan gedung (rodok kudu ngguyu plus sakno pol). Langsung saya lari menerjang hujan dan membantu dua orang itu memegangi piring-piring (-_-). Sambil mencoba meyakinkan ibu-ibu tersebut agar tetap tenang, saya mencoba utk memutar pikiran. saya pun memutuskan untuk pergi berlari ke kawan-kawan panitia yang juga lagi ribet, meminta tolong agar membantu saya memindahkan semua piring-piring itu. Fiuh, akhirnya, dalam 5 menit, ratusan piring tsb dapat dipindahkan ke tempat aman dan ibu-ibu itu sudah dipindahkan ke tempat lain dan dihangatkan.

*Fiuh*

Saya pun basah kuyup. Teles kabeh. Dan saya baru sadar kalau baju itu adalah persediaan baju terakhir saya yang saya bawa. Saya pun naik tangga, dan bergegas untuk masuk kamar menghangatkan diri. Hujan sudah sedikit reda, alhamdulillah. Angin sudah tidak begitu kencang, alhamdulillah. Saya pun membuka pintu, bayangan saya, turuu slimutan ning njero kamaar, angeeeeet.. eh..

“Biiii, nandi ae euy, banyunee mlebu kamar kabeeh, udan angin kamare banjiiiiiiir, kasure teles kabeeeh…”

Yaaaaaaaaah…

*Keesokan harinya*

Tour de Solo yang diagendakan malam, akhirnya diganti pagi. Minggu pagi, panitia mengajak para peserta untuk ke Stadion Manahan. Di Stadion Manahan pagi-pagi ada pasar kaget euy (tapi saya gak kaget euy, sudah sering ke Solo, wuik). Sebelum berangkat, semua peserta berkumpul di ruang bawah. Sebelum berkumpul, saya mendapati meja yang semalam diterpa angin kencang hingga terbang puluhan meter masih berada di posisinya. Saya pun mendekatinya, mencoba mengangkatnya. Buseet, beraat euuuuy. Saat saya mendekat ke rombongan, Fahmi memperingatkan, “Bii, delok’en ikoo Bii”. Wuuuuiiiiik, tiang listrik’e miring kabeh.😀