Tags

, , , ,

Salam Indonesia bangkit!

Monumen Titik Nol KIlometer, Yogyakarta

Monumen Titik Nol KIlometer, Yogyakarta

Sudah sejak lama saya mengamati pak Prabowo Subianto secara pribadi, mulai dari mengamati personal facebooknya, mengamati twitternya, dan juga menghadiri beberapa acara yang diselenggarakan oleh partai Gerindra di Jakarta (salah satunya adalah deklarasi 6 program aksi transformasi bangsa yang pada saat itu dilaksanakan di salah satu hotel di Jl Sudirman, Jakarta). Sejujurnya, sudah lama saya tertarik dengan gagasan yang dilontarkan oleh bapak Prabowo, jauh sebelum orang-orang kini ramai memperbincangkan beliau. Gagasan beliau adalah gagasan yang original, jauh di luar pengamatan orang banyak, sesuai dengan pengamatan dan analisa beliau sendiri terhadap kondisi kekinian bangsa ini yang memang perlu diselamatkan secara massif.

gerindra

Katakanlah dari segi sumber daya lingkungan, sudah lama beliau galau akan adanya fenomena gizi buruk. Bagi beliau, ini adalah fenomena aneh karena negara kita amat sangat kaya raya, memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, tetapi entah kenapa masih ada beberapa sisi di negara kita yang gemah ripah loh jinawi ini yang masih merasa kekurangan supply gizi. Melalui perenungannya, beliau menemukan ide yang beliau laksanakan sesuai dengan riset yang beliau laksanakan sendiri di rumahnya di sebuah sudut daerah kabupaten Bogor. Ide tersebut adalah ide sederhana yang perlu melibatkan penguasaan teknologi di zona remote area. Ide tersebut dinamakannya “revolusi putih”. Revolusi putih adalah ide sederhana yang fundamental. Dalam revolusi putih ini, beliau menggagas pengadaan susu secara autopilot di zona-zona remote area dengan memproduksi susu sendiri dengan memelihara hewan-hewan ternak di zona-zona tersebut. Gagasan ini tidak banyak diliput media, tapi menurut saya sangat masuk akal. Saya sendiri terlahir di sebuah desa terpencil di lereng gunung Penanggungan, kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kurang lebih saya tahu, betapa kita tidak bisa terlalu banyak bergantung pada supply produk-produk dari kota. Negara kita ini terlalu bergantung pada pergerakan sektor industri skala makro, dan kita melupakan bahwa sumber daya kita sendiri sangat berlimpah. Disamping itu, negara kita juga terlalu kota sentris, dimana segala sesuatunya bergantung di kota. Kota adalah pusat dari segala aktivitas ekonomi, segala macam produk berskala enterprise ada di sana. Sedangkan kita tahu sendiri bahwa tidak mudah bagi orang-orang yang berada di zona remote area untuk pergi ke pusat kota terdekat hanya untuk membeli susu untuk anaknya, misalnya.

Satu studi kasus saya laksanakan sendiri pada bulan ini. Kebetulan hobi saya adalah blusukan, dan sekarang saya sedang studi program master di salah satu kampus di Malaysia. Di akhir bulan Juni yang lalu, saya pulang kampung ke daerah kelahiran saya di Mojokerto melalui Jakarta. Saya memang sengaja pulang kampung sambil backpacker sambil melakukan pengamatan terhadap kondisi kekinian bangsa Indonesia. Dari Bandara Soetta, saya bertolak menuju Stasiun Gambir untuk melanjutkan perjalanan malam ke Mojokerto menggunakan kereta api. Saya merasakan sendiri, betapa senjangnya kondisi negara kita. Dengan meredam ego pribadi saya, dan dengan tetap harus mampu mengakui segala realita, saya harus tegas menyimpulkan bahwa negara kita masih senjang luar biasa. Tidak berhenti hanya di Mojokerto, saya mencoba melanjutkan perjalanan menuju Tuban untuk mengunjungi mertua, dilanjutkan dengan perjalanan menuju desa Kelet, suatu daerah di lereng Gunung Muria Kabupaten Jepara, untuk mengunjungi istri yang sedang internship di sana. Dengan tidak mengurangi rasa cinta saya sedikitpun kepada negara saya yang sangat kaya raya ini, saya tetap harus menyimpulkan dengan tegas bahwa negara kita ini masih jauh dari ideal. Kesenjangan luar biasa. Ditambah lagi, transportasi kita tidak ditunjang dengan kondisi jalan yang berkualitas dengan ukuran debit kendaraan yang ideal, sehingga jauh seolah amat sangat jauh. Saya bandingkan sendiri, untuk menempuh perjalanan Mojokerto, Jawa Timur menuju Jepara, Jawa Tengah yang berjarak kurang lebih sekitar 300 kilometer, saya harus menempuh perjalanan darat dengan menggunakan mobil pribadi sekitar 8 jam. Lain halnya dengan perjalanan di Malaysia, misalnya. Di Malaysia, perjalanan 300 kilometer mungkin hanya ditempuh selama 4 jam saja (4 jam lebih efisien). Dari indikator transportasi tidak ideal, sudah jelas konsep “kota sentris” adalah suatu hal yang tidak cocok diterapkan di Indonesia.

prabowo twitter

Ini masih terjadi hanya di pulau Jawa, bagaimana dengan pulau-pulau lain di Indonesia? Kalau Indonesia masih menerapkan konsep Jawa Sentris untuk pembangunannya, sudah dipastikan Indonesia tidak akan bisa maju. Indonesia adalah negara yang sangat bhineka, dibutuhkan leadership yang luar biasa untuk mengomando pembangunan berskala nasional, demi Indonesia bangkit. Masing-masing suku, masing-masing pulau, masing-masing daerah, memiliki kearifan lokal dan karakter yang berbeda-beda. Dibutuhkan karakter yang tegas dan berwibawa untuk mengatur pembangunan berkala nasional berkelanjutan dan masif. Pak Prabowo, saya yakin, dengan leadership skill yang Anda miliki, Anda mampu mengatur strategi massif pembangunan Indonesia hingga detail remote area. Hidup Indonesia, saya optimis Indonesia akan segera bangkit!

hbb

Muhammad Rizal Habibi, S.T.
Mahasiswa Pascasarjana
Graduate School of Business
National University of Malaysia

NB:
Ditulis dalam rangka mengikuti kontes surat untuk Prabowo, dengan niat untuk menuliskan milestone perjalanan semasa liburan.